Review Anime Who Made Me a Princess. Anime Who Made Me a Princess, yang dirilis dengan judul alternatif The Fated Magical Princess: Who Made Me a Princess pada akhir 2025, menjadi salah satu adaptasi manhwa paling dinanti tahun ini. Serial donghua dengan dub Jepang ini mengikuti Athanasia, seorang putri yang tahu nasib tragisnya dari ramalan, dan berusaha mengubahnya dengan mendekati ayahnya yang dingin, Kaisar Claude. Tayang sejak September di platform streaming internasional, anime ini menawarkan campuran fantasy kerajaan, drama keluarga, dan elemen romansa ringan yang membuatnya populer di kalangan penggemar otome isekai, meski dengan beberapa perubahan signifikan dari manhwa asli. BERITA BOLA
Alur Cerita yang Menyegarkan tapi Berbeda: Review Anime Who Made Me a Princess
Alur Who Made Me a Princess berfokus pada perjuangan Athanasia bertahan hidup di istana penuh intrik, dengan mengeksplor hubungan ayah-anak yang awalnya dingin menjadi hangat. Anime ini menggabungkan elemen dari novel dan manhwa, tapi menghilangkan aspek isekai eksplisit—Athanasia tahu masa depannya melalui foresight daripada reinkarnasi modern. Perubahan ini membuat cerita lebih seperti fantasy murni, dengan Claude digambarkan lebih lembut sejak awal. Pace cukup cepat di episode awal, penuh momen lucu dan heartwarming, tapi beberapa arc terasa watered down dibanding sumber. Hingga akhir 2025, serial ini berhasil membangun ketegangan emosional yang solid, meski penggemar manhwa sering merasa ada bagian yang dilewati untuk adaptasi lebih halus.
Karakter yang Menggemaskan dan Relatable: Review Anime Who Made Me a Princess
Athanasia menjadi highlight utama—adorable sebagai anak kecil yang pintar tapi vulnerable, dengan ekspresi menggemaskan yang membuat penonton tersenyum. Claude, sang ayah, digambarkan lebih approachable daripada versi manhwa yang lebih ruthless, memberikan dinamika father-daughter yang sweet dan heartwarming. Karakter pendukung seperti Lucas si penyihir misterius atau Ijekiel yang charming menambah variasi, meski romansa masih ringan. Pengisi suara Jepang memberikan performa natural, membuat dialog terasa hidup dan emosi mudah tersampaikan. Meski beberapa penonton mengkritik karakter terasa kurang kompleks karena perubahan plot, keseluruhan ensemble ini relatable dan mudah disukai, terutama bagi yang suka trope keluarga kerajaan.
Produksi Visual yang Memesona
Animasi Who Made Me a Princess patut dipuji dengan warna cerah, background istana megah, dan desain karakter jewel-eyed yang indah. Efek sihir dan adegan kerajaan terasa colorful serta imaginative, dengan motion halus yang membuat dunia fantasy ini easy to get lost in. Opening dan ending catchy, mendukung vibe ringan dan charming. Meski ada kritik mata karakter terlalu “blue” atau animasi tidak selalu konsisten, overall visual menonjol sebagai salah satu yang terbaik di adaptasi manhwa tahun ini. Humor light dan momen emosional didukung direction yang baik, membuat episode terasa engaging meski dari produksi non-Jepang utama.
Kesimpulan
Who Made Me a Princess adalah anime fantasy kerajaan 2025 yang sukses menyajikan cerita heartwarming dengan visual cantik dan karakter menggemaskan, meski perubahan dari manhwa membuatnya terasa seperti versi baru. Cocok untuk penggemar drama keluarga ringan, romansa subtle, dan trope putri pintar, serial ini jadi salah satu yang populer di musim tayangnya. Di akhir 2025, dengan rating tinggi dan diskusi ramai, anime ini layak ditonton bagi yang suka feel-good story dengan sentuhan magic. Meski tidak sempurna bagi purist manhwa, kehangatan hubungan ayah-anaknya membuatnya memorable dan recommended untuk binge santai.