Jujutsu Kaisen: Pesta Visual di Tengah Tragedi Shibuya

Jujutsu Kaisen: Pesta Visual di Tengah Tragedi Shibuya

Jujutsu Kaisen: Pesta Visual Dalam lanskap anime Shonen modern, sulit untuk tidak menempatkan Jujutsu Kaisen di puncak rantai makanan. Sejak debutnya, seri karya Gege Akutami ini telah mencuri perhatian dengan sistem kekuatan yang unik dan karakter yang karismatik. Namun, adalah musim keduanya—khususnya Arc Insiden Shibuya—yang benar-benar mengubah persepsi publik. Jujutsu Kaisen bukan lagi sekadar anime tentang “anak sekolah membasmi hantu”; ia telah bermetamorfosis menjadi sebuah epik horor-aksi yang brutal, tanpa ampun, dan memukau secara visual.

Studio MAPPA, yang memegang kendali produksi, berhasil menyajikan salah satu musim anime paling ambisius dalam satu dekade terakhir. Meskipun dibayangi oleh laporan mengenai kondisi kerja animator yang berat, hasil akhir yang tayang di layar kaca adalah sebuah mahakarya teknis yang menetapkan standar baru. Insiden Shibuya bukan hanya sebuah alur cerita; itu adalah peristiwa yang mengguncang fondasi dunia Jujutsu dan mental para penontonnya.

Insiden Shibuya: Titik Balik Narasi

Kekuatan utama dari fase terbaru Jujutsu Kaisen ini terletak pada keberanian narasinya. Jika di musim pertama kita masih merasakan nuansa shonen klasik dengan humor ringan dan interaksi sekolah, Arc Shibuya menghapus semua itu dalam sekejap. Tanggal 31 Oktober di Shibuya menjadi panggung mimpi buruk di mana “plot armor” (kekebalan karakter utama) seolah tidak berlaku.

Penonton dipaksa menyaksikan karakter-karakter favorit mereka—mentor yang bijaksana, teman sekelas yang ceria—jatuh berguguran atau mengalami cacat permanen. Kematian Kento Nanami dan nasib Nobara Kugisaki digambarkan dengan cara yang mengejutkan dan mendadak, tanpa ada momen perpisahan yang manis. Gege Akutami menunjukkan bahwa dalam perang melawan kutukan tingkat spesial, kematian adalah konsekuensi yang realistis dan sering kali tidak heroik. Absennya Satoru Gojo yang disegel di awal arc menciptakan kekosongan kekuatan (power vacuum) yang membuat setiap pertarungan terasa memiliki taruhan nyawa yang nyata.

Pesta Visual: Definisi “Cinema” Jujutsu Kaisen: Pesta Visual

Secara teknis, apa yang dilakukan MAPPA di musim ini adalah “kegilaan” dalam arti terbaik. Kualitas animasi (sakuga) yang ditampilkan melonjak ke level sinematik. Sutradara Shota Goshozono membawa pendekatan visual yang inovatif dengan penggunaan sudut kamera dinamis, pencahayaan realistis, dan integrasi CGI yang mulus dengan animasi 2D.

Dua pertarungan yang menjadi sorotan utama adalah Sukuna melawan Jogo, dan Sukuna melawan Mahoraga. Kedua pertarungan ini bukan sekadar adu pukul; ini adalah bencana alam yang divisualisasikan. Skala kehancuran kota Shibuya digambarkan dengan detail puing-puing yang beterbangan, api yang membakar langit, dan efek suara ledakan yang menggelegar. Animator berhasil menyampaikan betapa mengerikannya kekuatan “Raja Kutukan” Ryomen Sukuna. Penonton tidak hanya melihat pertarungan, tetapi merasakan getaran kekuatannya. Eksperimen gaya seni (art style) yang lebih kasar dan ekspresif di beberapa episode justru menambah intensitas kekacauan yang terjadi.

Yuji Itadori: Dekonstruksi Pahlawan Shonen

Fokus emosional cerita tertuju pada sang protagonis, Yuji Itadori. Di sinilah Jujutsu Kaisen bersinar. Yuji bukanlah pahlawan yang selalu menang dengan kekuatan persahabatan. Di Shibuya, ia dihancurkan secara mental. Ia dipaksa melihat pembantaian massal yang dilakukan oleh tubuhnya sendiri (saat dikuasai Sukuna) dan kematian orang-orang terdekatnya di tangan Mahito.

Adegan “I am you” (Aku adalah kau) di mana Yuji berjalan memburu Mahito di tengah salju adalah puncak pengembangan karakter yang dingin dan menakutkan. Pengisi suara Junya Enoki memberikan performa suara yang menyayat hati, terutama saat ia berteriak dalam keputusasaan. Yuji berubah dari bocah naif yang ingin “menolong orang agar mati dengan wajar” menjadi sebuah “roda gigi” pembunuh kutukan yang dingin. Transformasi psikologis ini sangat jarang dieksekusi sebaik ini di genre shonen.

Musik yang Menghantui: “You Are My Special”

Aspek audio juga memainkan peran vital. Lagu pembuka “SPECIALZ” oleh King Gnu menjadi sangat ikonik, bukan hanya karena melodinya yang catchy, tetapi karena lirik dan nuansanya yang seolah merayakan kekacauan yang terjadi di Shibuya. Penggunaan lagu ini di momen-momen kritis sering kali memberikan efek ironi yang mengerikan. (berita sepakbola)

Selain itu, tata suara (sound design) untuk efek Domain Expansion (Perluasan Daerah) dan teknik kutukan lainnya terdengar sangat berat dan futuristik. Keheningan yang digunakan di momen kematian tertentu justru berbicara lebih keras daripada musik latar apa pun.

Kontroversi di Balik Layar

Namun, review ini tidak akan lengkap tanpa menyinggung konteks produksi. Kualitas visual yang luar biasa ini datang dengan harga mahal: kesehatan para animator. Laporan mengenai jadwal produksi yang tidak manusiawi sempat mewarnai penayangan musim ini. Sebagai penonton, ada rasa kagum yang bercampur dengan rasa bersalah saat menikmati setiap detiknya. Ini menjadi catatan penting bagi industri anime bahwa keberlanjutan (sustainability) SDM harus menjadi prioritas agar kualitas seperti ini bisa terus dinikmati tanpa mengorbankan pekerjanya.

Kesimpulan Jujutsu Kaisen: Pesta Visual

Jujutsu Kaisen (khususnya Arc Insiden Shibuya) adalah sebuah fenomena. Ia berhasil menyeimbangkan aksi spektakuler dengan bobot emosional yang berat. Ia tidak takut menyakiti perasaan penontonnya demi integritas cerita.

Ini adalah tontonan wajib bagi siapa pun yang mengaku penggemar anime. Shibuya telah hancur, namun dari reruntuhannya, Jujutsu Kaisen bangkit sebagai salah satu anime aksi terbaik sepanjang masa. Sebuah pesta visual yang memabukkan, sekaligus tragedi yang memilukan.

review anime ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *