Review Anime One Punch Man. Anime One Punch Man kembali mencuri perhatian di akhir 2025 dengan musim ketiganya yang tayang sejak Oktober lalu. Setelah penantian panjang enam tahun sejak musim kedua, serial ini mengadaptasi arc Monster Association yang penuh aksi intens dan pertarungan epik. Saitama, sang pahlawan botak yang mengalahkan musuh dengan satu pukulan saja, kembali berhadapan dengan ancaman besar dari kelompok monster yang ingin menguasai dunia. Musim ini terdiri dari 12 episode, dengan episode terakhir dijadwalkan tayang pada 28 Desember nanti. Meski antusiasme awal tinggi, musim ketiga ini menuai beragam respons, terutama soal kualitas produksi yang menjadi sorotan utama. BERITA BOLA
Plot dan Perkembangan Cerita: Review Anime One Punch Man
Musim ketiga One Punch Man fokus pada konfrontasi besar antara Hero Association dan Monster Association. Saitama masih sering absen di awal, sementara pahlawan lain seperti Genos, Bang, Atomic Samurai, dan Tornado bertarung habis-habisan melawan monster kuat seperti Gyoro Gyoro dan Orochi. Garou, sang hero hunter, semakin mendalam perannya dengan evolusi yang dramatis, menambah lapisan konflik antara manusia dan monster.
Cerita bergerak dengan tempo cepat, penuh twist dan momen emosional. Saitama tetap jadi elemen komedi utama, dengan kebosanannya yang kontras dengan kekacauan di sekitar. Arc ini menjanjikan klimaks megah di episode akhir, di mana Saitama akhirnya turun tangan penuh. Meski adaptasi setia pada manga, beberapa penonton merasa pacing terlalu padat, membuat beberapa pertarungan terasa kurang dieksplorasi dibanding ekspektasi.
Karakter dan Humor yang Ikonik: Review Anime One Punch Man
Saitama tetap jadi daya tarik terbesar, dengan sikap cuek dan kekuatan absurdnya yang selalu menghasilkan momen lucu. Genos sebagai murid setia menunjukkan perkembangan signifikan, sementara Garou menjadi antagonis kompleks yang mudah disempati. Pahlawan kelas S seperti King, Zombieman, dan Child Emperor juga mendapat sorotan lebih, menampilkan keragaman kepribadian dari sombong hingga jenius.
Humor khas serial ini masih kuat, berasal dari parodi genre superhero dan kontras antara ancaman apokaliptik dengan hal-hal sepele seperti diskon belanja Saitama. Interaksi antar karakter sering menghadirkan tawa, meski nada gelap arc Monster Association membuat komedi lebih seimbang dengan drama. Karakter pendukung monster pun tak kalah menarik, dengan desain unik yang memperkaya dunia cerita.
Animasi dan Kontroversi Produksi
Secara visual, musim ketiga One Punch Man menjadi topik hangat yang memicu perdebatan sengit. Banyak adegan pertarungan terlihat kaku, dengan transisi sederhana dan animasi yang kurang fluid dibanding musim pertama. Beberapa momen ikonik dari manga, seperti gerakan Garou atau serangan Atomic Samurai, dieksekusi dengan cara yang dianggap kurang memuaskan, bahkan memunculkan meme di kalangan penggemar.
Trailer klimaks terbaru menjanjikan peningkatan di episode akhir, dengan harapan animasi lebih baik untuk pertarungan puncak. Meski begitu, kontroversi ini membuat musim ketiga sering dibandingkan negatif dengan musim sebelumnya. Suara pengisi dan musik pendukung tetap solid, menjaga nuansa epik meski visual jadi kendala utama.
Kesimpulan
One Punch Man musim ketiga menawarkan cerita epik yang setia pada akarnya, dengan aksi besar dan humor tajam yang membuat serial ini unik. Saitama dan dunianya masih menghibur, terutama bagi penggemar arc Monster Association di manga. Namun, isu animasi yang dominan membuat pengalaman menonton terasa naik turun, meninggalkan rasa campur aduk di akhir tahun. Dengan episode penutup yang diharapkan jadi penebusan, musim ini tetap wajib ditonton untuk kelanjutan petualangan Saitama. Secara keseluruhan, serial ini membuktikan daya tahan sebagai parody superhero terbaik, meski tak mencapai puncak masa lalu. Penggemar setia pasti tak akan kecewa sepenuhnya, tapi harapan untuk musim berikutnya kini lebih tinggi lagi.