Review Anime Sonny Boy. Anime Sonny Boy tetap menjadi salah satu karya paling unik dan mendalam di genre coming-of-age psikologis hingga sekarang. Tayang pada 2021 dengan 12 episode, seri ini merupakan proyek orisinal karya Shingo Natsume sebagai sutradara dan penulis, yang sebelumnya dikenal lewat animasi berkualitas tinggi di berbagai judul besar. Cerita mengikuti Nagara dan sekelompok siswa SMA yang tiba-tiba terlempar ke dunia paralel tanpa penjelasan jelas. Di sana, aturan fisika berubah, waktu mengalir berbeda, dan setiap orang mulai mengembangkan kemampuan supranatural yang disebut “Rule”. Awalnya terlihat seperti cerita petualangan remaja di dimensi aneh, tapi segera berubah menjadi eksplorasi filosofis tentang identitas, kebebasan, tanggung jawab, dan makna eksistensi. Dengan animasi yang indah, narasi non-linear, dan simbolisme berlapis, Sonny Boy bukan anime yang mudah ditonton, tapi bagi yang bisa masuk ke dalamnya, pengalaman ini sangat mengubah cara memandang cerita remaja dan dunia. BERITA BASKET
Plot yang Abstrak dan Penuh Misteri Bertahap: Review Anime Sonny Boy
Cerita dimulai secara mendadak: seluruh kelas Nagara terlempar ke langit biru tanpa pulau atau daratan. Mereka menemukan bahwa dunia baru ini adalah kumpulan “layers” yang terus berubah, di mana setiap layer punya aturan fisika berbeda. Tidak ada penjelasan ilmiah yang langsung; semuanya dibiarkan mengalir melalui pengalaman karakter. Nagara, yang awalnya pasif dan skeptis, mulai bertemu dengan orang-orang seperti Nozomi yang optimis, Rajdhani yang logis, dan Mizuho yang punya kemampuan unik. Kelompok ini membentuk masyarakat sementara, tapi konflik muncul ketika beberapa siswa mulai menyalahgunakan “Rule” mereka untuk mendominasi yang lain. Plot bergerak dari survival dasar menjadi perjalanan antar dunia paralel, dengan setiap episode memperkenalkan konsep baru: dari pulau terapung hingga kota yang terbalik, hingga realitas yang sepenuhnya abstrak. Tidak ada villain utama atau tujuan akhir yang jelas; cerita lebih fokus pada bagaimana karakter bereaksi terhadap kebebasan tanpa aturan dan tanggung jawab yang datang bersamanya. Akhir cerita memberikan penutup yang terbuka tapi sangat emosional, meninggalkan banyak pertanyaan tapi juga rasa damai yang aneh.
Tema Kebebasan, Identitas, dan Pertumbuhan di Dunia Tanpa Aturan: Review Anime Sonny Boy
Salah satu kekuatan terbesar Sonny Boy adalah eksplorasi mendalam tentang apa artinya menjadi diri sendiri ketika tidak ada lagi norma masyarakat yang mengikat. Di dunia paralel ini, siswa bebas melakukan apa saja—terbang, mengubah gravitasi, bahkan menciptakan aturan baru—tapi kebebasan itu justru membawa kekosongan dan konflik. Beberapa karakter memilih menjadi diktator kecil demi rasa aman, sementara yang lain mencari makna melalui hubungan antarmanusia. Tema ini terasa sangat relatable bagi remaja yang sedang mencari identitas di tengah dunia yang semakin cair dan tidak pasti. Anime ini juga membahas tanggung jawab yang datang dengan kekuatan: bagaimana kemampuan besar bisa menjadi beban jika tidak diimbangi dengan empati. Tidak ada pesan moral yang dipaksakan; justru penonton dibiarkan melihat konsekuensi dari pilihan setiap karakter. Hubungan antar tokoh, terutama antara Nagara dan Nozomi, menjadi jangkar emosional di tengah konsep-konsep abstrak, membuat cerita tetap terasa manusiawi meski latarnya semakin aneh.
Animasi, Musik, dan Atmosfer yang Menakjubkan
Gaya animasi Shingo Natsume di Sonny Boy sangat khas: warna-warna cerah dan lembut yang kontras dengan elemen surreal, gerakan kamera yang dinamis, dan transisi antar dunia yang mulus. Setiap layer punya estetika berbeda—dari langit biru tak berujung hingga kota terapung yang indah tapi menyesakkan—membuat visual terasa seperti lukisan bergerak. Karakter digambar sederhana tapi ekspresif, terutama ekspresi mata yang sering menyampaikan emosi lebih dari dialog. Musiknya menjadi elemen utama: soundtrack ambient yang dingin dan minimalis, ditambah lagu-lagu indie yang melankolis, menciptakan rasa melayang dan kesepian yang konstan. Lagu pembuka dan penutup yang dreamy memperkuat nuansa eksistensial, sementara efek suara seperti angin atau keheningan panjang meningkatkan ketegangan halus. Semua elemen ini bekerja bersama untuk membuat penonton merasa seperti ikut tersesat di dunia paralel—tidak ada momen benar-benar aman, tapi ada keindahan aneh di setiap frame.
Kesimpulan
Sonny Boy adalah anime yang sulit direkomendasikan secara sembarangan karena sifatnya yang sangat abstrak dan lambat. Ia menuntut kesabaran dan keterbukaan untuk menerima cerita tanpa jawaban pasti. Namun bagi yang bisa masuk ke dalamnya, seri ini memberikan pengalaman yang sangat langka: campuran antara kebebasan imajinasi, kesedihan remaja, dan refleksi filosofis yang dalam. Shingo Natsume berhasil menciptakan karya orisinal yang tidak meniru tren, tapi justru membuka jalan baru untuk storytelling di anime. Meski durasinya pendek, dampaknya sangat besar—banyak penonton merasa berubah setelah menonton, dengan pertanyaan tentang identitas dan kebebasan yang terus bergema. Bagi penggemar cerita psikologis, eksistensial, atau karya yang berani berbeda, anime ini wajib ditonton meski dengan ekspektasi rendah akan penjelasan. Pada akhirnya, Sonny Boy mengingatkan bahwa dunia tanpa aturan bukan utopia, melainkan cermin terbesar dari apa yang sebenarnya ada di dalam diri kita—dan itulah yang membuatnya tetap relevan dan menggugah hingga sekarang.